Drama tari topeng Khon yang berasal dari Thailand dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (2/10/10). Drama tari ini berjudul "Penculikan Shinta dan Pertempuran Kerajaan" yang bersumber dari kisah Ramakien atau Ramayana. Pertunjukan ini dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Thailand dan Indonesia.
Saturday, October 2, 2010
Thursday, October 22, 2009
Panen Kacang Tanah
Banjarnegara, Tampak puluhan warga Desa Gadunglekor, Purworejo Klampok Banjarnegara bergotong royong memanen kacang tanah milik salah seorang warga, Kamis (22/10). Baik Pria dan wanita, tua maupun muda bahkan anak-anak terlihat bersemangat dan bergembira melakukan panen kacang tanah. Luas tanah tanaman yang dipanen seluas 700 m2. Mereka dibayar sesuai dengan kesepakatan bersama yaitu setiap 10 kg yang dipetik mereka mendapatkan 1 kg kacang tanah yang dapat dijual Rp 4.500. Kecil memang jika dibandingkan dengan keringat yang mereka keluarkan namum hal ini mereka lakukan bukan semata-mata untuk mendapatkan uang namun sebagai bentuk gotong royong dan solidaritas antar warga. "Ini dilakukan bukan untuk mencari uang semata namun juga sebagai bentuk solidaritas dan gotong royong" Ujar Salah satu warga Maryatun (45). Ditengah derasnya arus modernisasi yang cenderung membuat orang bersifat individualis budaya seperti ini tetap terus mereka pertahankan dengan cara setaip kali ada warga yang hendak panen mereka lakukan dengan bergotong royong.
Sebuah tradisi yang menarik dan patut dilestarikan serta dicontoh guna meningkatkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan diantara warga. (Agung Pambudhy).
Suasana Panen Kacang
Menunjukkan Hasil Penen
Menimbang
Adik Kecilpun Ikut Membantu
Nenekpun Ikut Bergotong Royong
Sunday, June 14, 2009
Ibu dan Anak menjadi pengrajin gerabah lebih dari 20 Tahun.
Sesampai disana kulihat dua perempuan tampak serius bekerja bergulat dengan tanah liat. Bergegasku turun dari sepeda motor untuk langsung menyapa mereka "Kulonuwun Ibu". Perempuan itu pun menjawab "monggo". setelah beberapa saatku memperkenalkan diri dan memberitahu maksud kedatangaku kesana, baru kuketahui mereka adalah ibu dan anak. Tumilah (40) dan Sriatun (27) adalah seorang pengrajin keramik atau lebih sering dikenal sebagai pengrajin gerabah. Saat itu mereka sedang membuat vas bunga. Pekerjaan ini telah mereka geluti hampir 20 tahun lamanya.
Untuk membuat satu vas bunga dibutuhkan waktu sekitar 3 hari."Satu bulan kulo kalih anakku sanggup nggawe 500 vas bunga" ucap Tumilah. satu vas bunga mereka jual sekitar Rp 2.500. artinya penghasilan mereka kurang lebih 1 bulan Rp 1.250.000. "Ya lumayanlah mas untuk makan kami" lanjutnya.
Dalam membuat vas bunga mereka masih menggunakan alat tradisional dan tungku pembakaran berbahan bakar kayu. Menarik ketika melihat mereka memutar-mutar piringan dengan menggunakan kedua jempol kakinya. Sungguh kekuatan yang luar biasa bagiku memutar piringan dengan menggunakan jempol kaki. Dalam membuat 1 vas bunga paling tidak mereka harus mengerakkan jempol kakinya selama 15 menit. tak bisa kubayangkang kalau aku mencoba membuatnya bisa-bisa jempolku keram heheheh.....
Setelah jadi vas bunga mereka jual ke galeri yang ada dipinggir jalan untuk difinising dan dijual kepada para wisatawan sebesar Rp 7.500/ buah. Dimasa liburan sekolah seperti sekarang ini penjualan kerajinan keramik meningkat kurang lebih 12% dari hari-hari biasa. (Agung Pambudhy)
Subscribe to:
Posts (Atom)








